Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kuliner. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Desember 2014

KULINER PULAU BELITUNG: MIE BELITUNG DAN MAKAN BEDULANG

Pada perjalanan rame-rame ke Pulau Belitung beberapa waktu yang lalu, saya mendapat kesempatan untuk mencicipi kuliner Mie Rebus Belitung yang terkenal itu dan makan bedulang.

Mie Rebus Khas Belitung

Masakan berbahan dasar Mie memang cukup diterima dan populer di Indonesia. Meskipun asalnya dari negeri seberang di Tiongkok sana, tetapi lidah orang Indonesia sudah sangat familiar dengan mie yang dengan berbagai varian yang disajikan dalam berbagai bentuk masakan. Dari bahannya, siapa yang tidak kenal mie telur, mie bihun, mie soun, mie instant, kwetiau, spageti dll? Semua bahan tersebut dapat dimasak sesuai dengan selera masing-masing mulai dari digoreng maupun direbus?

Nah, di Belitung mie yang terkenal adalah mie rebus belitung. Mie tersebut direbus dan disajikan dengan sedikit kuah (jawa: nyemek). Konon kuah mie belitung dari rebusan seafood, utamanya udang dan rasanya sedikit manis dan kental. Mie juga disajikan dengan irisan tahu dan ketimun serta krupuk dan emping sebagai pelengkap. Sebagai pemanis, kadang juga kita dapat menjumpai udang disitu, hehehe
Penampakan Mie Belitung

Mie belitung yang terkenal konon bermerek Mie Atep. Tapi saat saya mengunjungi Belitung, guide kami membawa kami ke warung mie selain Mie Atep, yang konon tak kalah lezatnya. Masalah itu belum saya tahu juga kebenarannya karena saya baru mencoba mie Belitung satu kali saja, jadi belum bisa membandingkan.

Menurut saya sih, Mie belitung tidak berbeda dengan mie rebus lainnya. Hanya saja cita rasa manis memang sangat terasa di lidah, mungkin dari rebusan sea food itulah  rasa itu berasal. Irisan ketimun yang dicampurkan ke dalam hidangan mie juga merupakan sesuatu yang baru. Karena biasanya ketimun disajikan sebagai acar bersama bawa merah dan cabai. Meski hasil akhirnya sama, sebagai campuran mie, tetapi cara penyajian yang berbeda membuat mie belitung serasa spesial.

Makan Bedulang
Makan Bedulang khas Belitung menjadi salah satu menu khas pada tour kami ke Belitung. Awalnya saya pikir makan bedulang adalah sejenis restoran tertentu dengan sajian makanan khas tertentu. Ternyata setelah saya browsing di internet, ketahuanlah bahwa makan bedulang itu adalah cara makan, sedangkan makanan yang disajikan bisa apa saja. Ketika saya cerita dengan teman saya yang dari Sulawesi, dia mengatakan bahwa di kampungnya makan bedulang itu sesuatu yang biasa. Tentu saja, nama untuk cara makan seperti itu di setiap daerah lain-lain namanya. Di belitung, kita mengenalnya dengan "bedulang".


Inti dari makan bedulang adalah makan rame-rame  secara lesehan, satu dulang (nampan) untuk makan  4 (empat) orang. Biasanya dulang untuk menaruh piring-piring berisi lauk saja, sedangkan nasi ditaruh di baskom kecil yang terpisah.  Unsur dari lauk yang disajikan biasanya terdapat "gangan"  (sup ikan) khas belitung yang konon memakai pucuk daun kedondong untuk menghasilkan rasa asam dan penambahan irisan nanas. Warna supnya adalah Kuning karena penambahan kunyit sebagai salah satu bumbunya. Ada juga "gangan darat, itu bila sup nya bukan dari ikan, tetapi daging sapi.

Masakan yang khas lainnya adalah "sambal nanas" yang sepertinya wajib ada di setiap makan bedulang. Sebagaimana menu orang Indonesia lainnya, sambal memegang posisi sangat penting sebagai pembangkit selera makan. Makanya apabila harga cabai melambung seperti sekarang ini, banyak dapur orang Indonesia yang menjerit. hehehe

Menu lainnya, terserah yang masak, bisa apa saja, yang jelas, makan ala bedulang ini, kita harus bersedia untuk berbagi. Karena  jenis masakan yang biasanya hanya disajikan satu per piring, So, harus dibagi 4 lah, sedikit-sedikit yang penting sama rata, sama rasa. Itulah uniknya makan bedulang khas belitung. Tertarik mencoba? ( Jakarta, 29 Desmeber 2014)


Rabu, 13 Agustus 2014

SATE KEONG DAN PECEL SEMANGGI: KULINER KHAS KENDAL

Ketika melintasi jalur pantura menuju Semarang, sebelumnya anda  pasti akan melewati sebuah kota kabupaten bernama Kendal. Kendal berjarak sekitar 25 km dari ibu kota Jawa Tengah Semarang. Meskipun banyak orang yang salah mengartikan kota Kendal dengan Tegal, tapi berkat lagu Waljinah berjudul Walang Kekek....kota Kendal diabadikan sebagai pembuka lagu tersebut..."Kendal kaline wungu, ajar kenal karo aku"....dst (Kendal Kaliwungu, belajar kenal dengan saya).

Banyak orang menyebut kota Kendal sebagai kota pensiunan, karena suasananya yang tenang dan cocok untuk menghabiskan masa tua. Namun demikian tak banyak orang yang tahu bahwa Kendal memiliki kuliner khas yang patut dicoba. Selain oleh-oleh krupuk rambak (krupuk kulit) kerbau dan sapi, bila melintasi kota Kendal, jangan lupa mampir ke pasar Kendal. Pasar yang terletak di pusat kota Kendal ini menjadi tempat pertemuan penjual dan pembeli yang cukup ramai, khususnya sayuran dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Apabila anda ingin berburu jajanan khas tradisional Kendal, disinilah tempat yang paling cocok. Berbagai jajanan tradisional yang bebas dari pengawet dan enak-enak dapat diperoleh dengan harga yang murah. Selain itu, di pasar Kendal juga terdapat penjual gethuk dan jajanan basah tradisional lainnya seperti cenil, gebral, lupis dll.

Pasar ini menyimpan banyak kenangan masa kecil buat saya, karena seringnya diajak ibu untuk belanja di pasar itu. Dan ketika beberapa waktu yang lalu saya pulang kampung dan mengunjungi pasar Kendal, tidak banyak yang berubah dari pasar tersebut. Sehingga kunjungan ke pasar ini lebih merupakan kunjungan nostalgia bagi saya.

Di pintu masuk Pasar Kendal, apabila anda berkunjung pagi, anda beruntung untuk mencicipi kuliner khas Kendal, Sate Keong dan Pecel Semanggi. Penjual sate keong dan pecel semanggi selalu mangkal di lokasi tersebut dari dulu setiap hari, sejak jaman saya kecil. Jadi setiap ke pasar, tidak lupa saya minta untuk dibelikan makanan tersebut.

Tahu khan apa itu keong? keong adalah nama lain dari siput yang hidup di sawah-sawah yang ditanami padi. Sebenarnya Keong ini merupakan hama padi, sehingga mencari keong untuk direbus atau dibuat makanan lainnya akan membantu petani. Dalam hal sate keong khas kendal ini, setelah dilepaskan dari cangkangnya, keong lalu dibumbui dan direbus, baru kemudian ditusuk satu persatu menjadi sate. Bumbunya yang agak-agak pedas cabe sangat cocok dengan rasa keongnya yang khas. Sate Keong yang  ini merupakan pasangan bagi pecel semanggi khas Kendal.

Pecel semanggi khas Kendal ini komposisinya hanya daun semanggi yang direbus saja dan diberi sambal pecel. Biasanya sambel pecelnya bukan terbuat dari kacang tanah, tetapi dari ketela rambat. Diperlukan daun semanggi yang banyak untuk menghasilkan pecel semanggi ini karena daun semanggi yang sangat mungil dan tipis ini, akan menyusut banyak apabila direbus. Konon ngrebusnya juga sebentar saja sudah matang, untuk mengurangi kadar penyusutannya. Tumbuhan semanggi yang banyak ditemui di sawah sawah yang ditanami padi menjadi sayuran yang enak bila dijadikan pecel.

Rasa daun semanggi yang manis dan renyah memberikan sensasi tersendiri bagi pecel yang dijual. Biasanya orang membeli pecel untuk dibungkus dibawa pulang atau langsung dimakan disitu dengan pincuk.  Mengingat tidak banyak yang jual sate keong dan pecel semanggi di pasar kendal saat ini, makanya dagangan mereka akan laris sebelum tengah hari. Jadi apabila ingin mencicipinya, pastikan anda tidak kesiangan berkunjung ke Pasar kendal. (Salemba, 13 Agustus 2014)






Senin, 11 Agustus 2014

MENCICIPI PECEL BUNGA KECOMBRANG DI PURWOKERTO

Bagi anda-anda yang sudah biasa menggunakan jalur selatan berkeretaapi, pasti sudah familiar dengan stasiun kereta api Purwokerto. Karena stasiun yang terletak di pertengahan jalur Cirebon-Yogyakarta ini disinggahi oleh hampir semua kereta jalur selatan baik tujuan Yogyakarta, Solo, Surabaya maupun Malang.

Selain terkenal dengan oleh oleh khas  seperti Kripik Tempe, Nopia, Pisang Sale, Getuk Goreng Sokaraja dll, satu hal yang tidak boleh dilewatkan saat berkunjung di kota sejuk ini adalah pecel bunga kecombrang. Penjual pecel bunga kecombrang ini memang sudah lama mangkal di stasiun kereta Purwokerto. Dulu waktu belum ada sterilasasi pedagang kaki lima di stasiun-stasiun di Indonesia, mereka menjajakan dagangannya di sekitar stasiun, ketika kereta berhenti, banyak orang yanng bergegas turun kereta demi untuk mencicipi sensasi makanan khas ini. Saat ini, penjual pecel bunga kecombrang masih dapat ditemui di Stasiun Kereta Purwokerto, namun mereka mangkal di emperan depan stasiun. Jadi para penumpang kereta kereta api yang lewat Purwokerto memang tidak lagi dapat menikmati kudapan ini, kecuali mereka turun atau naik kereta dari Purwokerto.

PECEL, SALAD JAWA
Pecel alias salad jawa ini memang sudah terkenal dimana mana... hampir semua orang mengenal makanan dari sayur sayuran rebus yang disiram sambel kacang ini. Setiap daerah di Jawa mempunyai variasi masing-masing dalam menyajikan pecel ini. Mulai dari komposisi sayuran yang dipergunakan maupun bumbu pecelnya. Makanan sehat ini sangat praktis untuk disajikan karena sekarang bumbu pecel sudah banyak dijual dimana mana. Hanya tinggal menambahkan air, maka bumbu pecel pun sudah siap untuk disiramkan ke sayuran rebus sesuai selera.

KECOMBRANG
Bunga Kecombrang (Etilingera Elatior) atau Honje atau Kincung atau Siantan, cukup dikenal dalam kamus kuliner Indonesia karena biasa digunakan sebagai campuran berbagai masakan ikan, sayuran maupun sambal. Rasanya yang asam-asam wangi memberikan sensasi yang tidak biasa bagi yang mencicipinya. Tanaman yang mirip rumpun lengkuas dan jahe ini juga bisa menjadi hiasan yang menarik di halaman karena warna bunganya . Menurut berbagai sumber, tanaman ini juga dapat menjadi berbagai obat.

KENAPA PECEL BUNGA KECOMBRANG ISTIMEWA?
Kenapa makanan ini istimewa? mungkin karena tidak banyak daerah yang menggunakan bunga ini sebagai salah satu komposisi pecelnya. Selain itu, bunga kecombrang bukanlah jenis sayuran yang bisa dengan mudah ditemukan di pasar-pasar. Selain itu, rasanya yang memang khas, asam-asam wangi segar...konon bisa membantu mengatasi masalah bau badan juga lho.... Di penjual pecel Kecombrang yang saya jumpai di Stasiun Purwokerto belum lama ini, menggunakan komposisi sayuran yang tidak biasa untuk sebuah pecel. Selain bunga kecombrang  yang menarik mata karena warna merahnya, terdapat pula bunga turi putih, serutan pepaya muda, kecambah, kecipir dan batang keladi.

Untuk melengkapi sajian pecel yang disiapkan di pincuk ini, ketupat, dan pilihan lauk antara lain tahu goreng, tempe mendoan atau bakwan sayuran. Cukup dengan merogoh kocek Rp. 7.000 (tujuh ribu rupiah) saja, kesegaran dan kelezatan pecel kecombrang sudah dapat kita nikmati.(Salemba, 12 Agustus 2014)


Kamis, 27 Februari 2014

MENCICIPI KULINER RESTORAN GADJAH WONG YOGYAKARTA

Deretan gajah pada Elephant room
Ketika mengunjungi kota Gudeg Yogyakarta, saya direkomendasikan untuk tidak melewatkan salah satu kuliner maestro di Yogyakarta yaitu Restoran Gadjah Wong. Dengan diantar oleh adik sepupu yang kuliah di Yogyakarta, suatu malam, saya mencari lokasi restoran yang beralamatkan di Gejayan tersebut. Namun meskipun sepupu sudah tinggal di Yogya selama 5 tahun, ternyata tidak serta merta dia paham mengenai lokasi restoran tersebut. Saya paham, restoran Gadjah Wong memang bukan tempat makan anak kost-kost an seperti sepupu saya, hehehe.

Gamelan room
Memasuki restoran dari bagian belakang, saya melihat bahwa restoran yang terletak di pinggir sungai Gadjah Wong tersebut terkesan seperti sebuah rumah kuno, dan temaram. Ketika masuk ke ruangan pertama, tatanan ruangan bernuasa kuno dan tradisional dengan meja kursi yang tertata rapi telah tersedia. Namun di bagian belakang ruangan tersebut, tersedia juga tempat-tempat makan dengan iringan musik dan suasana tertentu. Konon restoran Gadjah Wong tersebut dahulunya merupakan tempat pembuangan sampah. Lokasi pinggir kali tersebut menarik perhatian pemilik restoran dan menyulapnya menjadi tempat makan yang dicari banyak orang.

sajian nasi kuning lengkap
Terdapat pendopo kayu tradisional jawa yang terbuka dengan iringan musik gamelan jawa, yang disebut sebagai Area Kura-Kura atau Gemelan Room. Selain itu terdapat juga area Gadjah atau Latin combo room karena terdapat grup musik latin yang romantis yang mengiringi suasana bersantap para tamu. Terdapat juga Bebek Area atau Jazz classic room yang sesuai dengan namanya, menyajikan hiburan musik Jazz secara life.

Bebek Panggang
Pada kesempatan tersebut saya duduk di kura-kura room dengan iringan gamelan Jawa dan  memesan nasi kuning komplit dan Bebek Panggang. Sepupu saya memesan steak. Kami mengakhirinya dengan sorbet. Saya melihat bahwa tamu-tamu yang bertandang ke restoran tersebut memang rata-rata ekspartiat  dan pelancong dari Jakarta. Makan di restoran Gadjah Wong paling cocok untuk fine dining karena suasana dan tatanan makanannya yang mendukung. Harga yang harus dikeluarkan juga lumayan mahal, apalagi untuk ukuran kota Yogyakarta. Tapi apabila yang disasar adalah turis asing dan pelancong, restoran tersebut memang telah berhasil mencuri perhatian.

Mengenai rasa makanannya, memang lekeer. Nasi kuning merupakan salah satu menu yang direkomendasikan di restoran tersebut, nasi kuningnya ditata dalam bentuk contong panjang dan makanan pesertanya ditaruh disisinya. Bebek panggang di piring tersendiri yang berbumbu manis. Patut dicoba. (Jakarta, 27 Pebruari 2014)




steak sapi



Kamis, 30 Januari 2014

MENCICIPI SNOW CRAB DI SAPPORO

Apabila berkunjung ke kota Sapporo, Hokaido Jepang, jangan lupa untuk mencicipi kuliner kepitingnya yang terkenal.

Orang Jepang mengatakan bahwa Saporro adalah kota yang paling tepat untuk mencicipi hidangan laut yang paling enak di Jepang. Hasil laut yang berlimpah dan segar serta laut Hokaido yang masih terjaga dari polusi membuat makanan laut menjadi pilihan yang sangat menggoda ketika berkunjung ke Saporro. Bahkan apabila ada waktu, disarankan untuk mengunjungi pasar ikan di Sapporo pagi-pagi dan menikmati secara langsung kesegaran dan kelezatan hasil laut dari tangan pertama.

Di Saporro, anda akan menjumpai banyak restoran yang menyajikan hidangan laut, khususnya kepiting. Mereka memajang replika kepiting ukuran besar dan merah sebagai penanda bahwa restoran tersebut menyajikan masakan kepiting Saporro yang terkenal tersebut,. Bahkan ada restoran yang memasang kepiting raksasa di dindingnya yang dapat bergerak-gerak untuk menarik perhatian pelanggan.

Salah satu jenis kepiting yang banyak dijual di Sapporo adalah kepiting salju atau Snow Crab. Saya tidak tahu kenapa disebut kepiting salju, mungkin karena daging kepitingnya yang putih seperti salju ketika dia dibelah. Kepiting dari Pulau Hokaido ini memang menghasikan daging yang tebal dan sangat gurih dinikmati. So...jangan lewatkan untuk mencicipi hidangan kepiting Saporro yang terkenal apabila berkunjung ke pulau Hokaido, Jepang. (Jakarta, 30 Januari 2014)

KULINER KHAS LOMBOK: AYAM BAKAR TALIWANG

Restoran Ayam Bakar Taliwang, Lombok
Apabila berkunjung ke Pulau Lombok, jangan lupa  mencoba kuliner khas Lombok di kota asalnya, Ayam Bakar Taliwang.

Ternyata Taliwang adalah nama desa asal kuliner ayam bakar tersebut berasal. Salah satu restoran ayam bakar Taliwang yang terkenal adalah Restoran Irama. Di restoran tersebut, pengunjung disuguhi berbagai olahan makanan dengan ayam bakar sebagai primadonanya. Terdapat berbagai pilihan ayam bakar yang dibedakan dengan tingkat kepedasannya, mau yang sangat pedas ataupun sedang maupun yang ayam bakar madu, silahkan dipilih.

Ayam Bakar Taliwang: ayam kampung asli
Sebagai teman si ayam bakar, jangan lupa mencicipi pula plencing kangkung Lombok yang sangat terkenal itu. Rasa pedas yang menyertai rebusan daun kangkung yang renyah memberikan sensasi tersendiri, apalagi dimakan dengan nasi pulen hangat. Bisa nambah deh... Ketika teman saya cerita mengenai kelezatan rasa plencing kangkung khas lombok, saya  tidak percaya karena saya pernah mencoba plencing kangkung di Jakarta yangb rasanya biasa-biasa saja.



Si Plencing Kankung yang bikin ketagihan

Ternyata faktor penentu dari si plencing kangkung adalah jenis kangkungnya serta sambalnya. Mungkin tanah dan air di Lombok bisa dengan sukses menghasilkan kangkung yang renyah dan yummy apabila dimasak plencing. Kangkung yang batangnya di belah-belah tersebut terasa manis, renyah dan segar dimulut, sangat pas bertemu dengan sambel plencing serta kacang tanah goreng.

Kalau ayam bakarnya, bagi saya tidak terlalu berbeda dengan ayam bakar lainnya. Memang pilihan ayamnya yang berasal dari ayam kampung dan bumbunya yang meresap memang menjadi penentu cita rasa si ayam Taliwang ini. Tapi bagi beberapa orang, mungkin menemukan ayam bakar ini terlalu liat dan keras bagi lidah mereka karena daging ayam kampung memang tidak setebal ayam negeri.

Silahkan mencoba si ayam bakar dari Taliwang asli Lombok apabila berkunjung ke Lombok, maka anda tidak akan pernah menyesal. (Jakarta, 30 Januari 2014)