kadang, orang menzalimi hati dilakukan oleh orang yang punya hati itu sendiri.
Rabu, 31 Oktober 2012
MULUT KITA
Sebaiknya setiap dari panca indra kita, digunakan saja seperti fungsinya sebenarnya. Mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, hidung untuk bernafas, mulut untuk bicara dan tangan untuk meraba. Penggunaannya pun sebaiknya seperlunya saja, sesuai dengan fungsinya, janganlah berlebihan. karena sesuatu yang berlebihan selalu tidak baik.
mulut kita ini, adalah pintu untuk makanan yang akan menjadi tenaga bagi aktifitas kita. mulut juga merupakan penjaga harkat kita, sebagai manusia. Buat apa bicara bila ucapan yang keluar hanya menyakiti perasaan orang saja? bukankah lebih baik diam dan menahan diri?! Makanya ada pepatah kuno mengatakan "diam adalah emas" atau pepatah jawa mengatakan "äjining diri ana ing obahing lathi"(nilai diri kita terlihat dari ucapan kita).
Saat ini, orang cenderung banyak bicara...untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Kadang pembicaraan itu tidak perlu dan hanya memperkeruh suasana saja karena tidak diimbangi dengan pengetahuan yang baik mengenai topik pembicaraannya. Saya yakin bahwa, orang diam bukan berarti tidak tahu saja, orang diam bisa saja karena dia tidak mau bicara saat itu, bukan berarti bahwa dia tidak tahu. Mungkin malah pengetahuan dia bisa lebih banyak dari orang yang banyak bicara.
Mulut kita ini bentuknya bermacam, macam. Bagi wanita, mulut dengan stakeholdernya seperti bibir, gigi, gusi, lidah merupakan bagian penting dari kecantikan wanita, makanya sering dia berwarna merah menggoda. Mulut sebagai fungsinya, sebaiknya dipergunakan dengan sebaik baiknya untuk kebaikan tubuh kita, makan makanan yang baik baik saja dan berbicara yang biak baik pula. Insyaallah kita semua akna sehat dan selamat, dunia dan akhirat. amin. (Jakarta, 1 Nopember 2012)
mulut kita ini, adalah pintu untuk makanan yang akan menjadi tenaga bagi aktifitas kita. mulut juga merupakan penjaga harkat kita, sebagai manusia. Buat apa bicara bila ucapan yang keluar hanya menyakiti perasaan orang saja? bukankah lebih baik diam dan menahan diri?! Makanya ada pepatah kuno mengatakan "diam adalah emas" atau pepatah jawa mengatakan "äjining diri ana ing obahing lathi"(nilai diri kita terlihat dari ucapan kita).
Saat ini, orang cenderung banyak bicara...untuk menunjukkan eksistensi dirinya. Kadang pembicaraan itu tidak perlu dan hanya memperkeruh suasana saja karena tidak diimbangi dengan pengetahuan yang baik mengenai topik pembicaraannya. Saya yakin bahwa, orang diam bukan berarti tidak tahu saja, orang diam bisa saja karena dia tidak mau bicara saat itu, bukan berarti bahwa dia tidak tahu. Mungkin malah pengetahuan dia bisa lebih banyak dari orang yang banyak bicara.
Mulut kita ini bentuknya bermacam, macam. Bagi wanita, mulut dengan stakeholdernya seperti bibir, gigi, gusi, lidah merupakan bagian penting dari kecantikan wanita, makanya sering dia berwarna merah menggoda. Mulut sebagai fungsinya, sebaiknya dipergunakan dengan sebaik baiknya untuk kebaikan tubuh kita, makan makanan yang baik baik saja dan berbicara yang biak baik pula. Insyaallah kita semua akna sehat dan selamat, dunia dan akhirat. amin. (Jakarta, 1 Nopember 2012)
Busway Oh Busway
Sebagai pengguna angkutan umum, busway merupakan jenis angkutan yang menjadi pilihan saya ketika harus pulang pergi ke kantor. Biasanya saya menggunakan busway dari terminal Pulogadung turun di halte Monumen Nasional. Kalau saya sedang beruntung, saya bisa mendapatkan busway yang jurusan Pulogadung-Bundaran Senayan. Dengan naik busway jurusan ini, saya tinggal duduk manis dari Pulogadung sampai tujuan saya di seputaran Monas. Namun sayangnya, busway jurusan ini konon hanya berjumlah 6 (enam) ekor saja. Sehingga, saya sering kehabisan busway edisi terbatas ini dan harus naik busway jurusan Harmoni. Kalau naik busway jurusan harmoni, saya harus turun di halte harmoni dan antri kembali untuk mendapatkan busway jurusan KOta-Blok M yang melewati halte Monas. Sebenarnya halte MOnas adalah halte setelah halte Harmoni, jadi cukup dekat. Namun mengingat banyaknya orang yang kerja di kantor-kantor sepanjang jalan Thanmrin dan Sudirman, maka mau tidak mau...saya harus antri menunggu lumayan panjang untuk mendapatkan busway rute ini. Untunglah rute Blok M-Kota merupakan rute pioneer yang selain banyak peminat, juga dilayani oleh armada yang cukup banyak, sehingga walaupun antrain panjang, kita tidak harus menunggu lama.
Kembali ke busway yang berangkat dari terminal Pulogadung, dimana setiap hari saya naiki. JUmlah Busway jurusan Bundaran Senayan yang hanya 6 ekor itu berangkat dari terminal Pulo Gadung pada range jam 7-8 pagi. Namun tepatnya jam berapa saja mereka jalan, tidak ada waktu yang pasti. Saya pernah sampai terminal sebelum jam 7 pagi, namun busway jurusan Bunsen (Bundaran Senayan) pertama nonggpl pukul 7.30 pagi. Saya juga pernah sampai treminal jam 7.30 pagi, eeh..katanya busway Bunsen sudah jalan semua, habis. Tapi saya juga pernah datang pukul 7.45 namun masih beruntung mendapatkan busway Bunsen terakhir, alhamdulillah.
Saya kadang iseng memperhatikan bahwa penumpang busway pada pagi hari itu ternyata berbeda penampilannya pada jam pemberangkatan yang berbeda. Pukul 7-8 pagi didominasi oleh mbak mbak para pekerja kantoran yang kebanyakan beraktifitas di sekitar Sudirman Thamrin. So...baju rapi cenderung modis, wangi dan cantik memenuhi busway jam tersebut. Namun apabila waktu sudah menunjukkan pukul 8 ke atas, penumpang busway dari Pulogadung mulai dinaiki oleh para pekerja sektor informal dengan penampilan yang tentu berbeda dengan range waktu sebelumnya, meski pada saat itu masih ada saja pekerja kantoran, namun tidak terlalu banyak, karena waktu yang sudah siang.
Busway Pulogadung memiliki beberapa pramudi(sopir) perempuan. Saya
mengagumi para mbak-mbak yang memilih profesi ini. Mereka adalah wanita yang beraktifitas di profesi yang biasanya menjadi domain para lelaki. Wanita cantik yang membawa bus besar berisikan puluhan nyawa manusia dengan baik dan selamat, menurut saya adalah "sangat sexy".
Space khusus untuk perempuan di separo badan bus bagian depan merupakan salah satu alasan mengapa banyak wanita menjatuhkan pilihan favorit kepada busway dalam menuju tempat aktifitasnya. Rasa aman merupakan faktor penting bagi wanita pengguna transportasi umum. Tentu saja, meskipun harus berdesakan berdiri, para wanita tidak terlalu kawatir adanya copet mengincar bawaanya atau adanya para pengamen yang separo mengancam sebagaimana di bus angkutan umum lainnya.
Namun, cerita indah mengenai busway akan berubah total saat saya pulang kantor di sore hari. Dengan tubuh capai setelah seharian bekerja di kantor, saya harus antri lumayan lama di halte Monas menunggu busway yang akan mengantar saya ke Pulogadung. Sekmen penumpang yang tercampur di sore hari membuat antrian busway yang cukup panjang menyesaki halte Monas. Kadang saya harus berdiri berdesakan sekitar 1(satu) jam untuk menunggu busway. Biasanya busway yang mencapai halte monas selalu dalma kondisi sudah penuh sesak, sehingga hanya dapat mengangkut dua atau tiga orang penumpang tambahan saja.
Kami terkadang iri dengan penumpang di sebelah yang menuju blok M. Busway ke Blok M lebih banyak 7x lipat dibanding Pulogadung. 7x busway jurusan Blok M datang, hanya sekali busway Pulogadung lewat, itupun dengan kondisi sudah penuh sesak. So...andaikan bisa terbawa masuk, biasanya kami harus bersiap untuk menambah jam berdiri dan berdesakan kami lagi. Kalau saya beruntung, saya kadang bisa dqapat tempat duduk satu halte sebelum pulogadung. Kalau tidak beruntung ya..berdiri sepanjang jalan sampai Pulogadung.
Kadang saya merasa bahwa faktor keberuntungan saya hari itu berkaitan erat dengan busway. Kadang saya merasa sangat gembira karena beruntung mendapatkan busway saat saya baru tiba di terminal pulogadung, apalagi kalau dapat tempat duduk. Namun kadang saya juga harus rela untuk menunggu lebih dari 30 menit untuk menunggu busway datang.
Namun apapun cerita saya mengenai busway, saya memang tidak mempunyai pilihan lain selain menerimanya, karena busway adalah moda transportasi umum yang murah dan aman yang akan membawa saya ke tempat tujuan saya. Cerita saya adalah cerita yang sama dengan ribuan pengguna busway lainnya. Saya hanya berharap bahwa manajemen Trans Jakarta dapat meningkatkan pelayanannya kepada para penumpang. Khususnya adalah menambah jumlah armada yang beroperasi pada jam-jam sibuk orang pulang kantor di sore hari. Sehingga penumpang yang kebanyakan harus mengambil angkutan lain sebelum sampai rumah, dapat segera bertemu dengan keluarganya kembali dengan aman dan selamat. (cakung, 1 nopember 2012)
Senin, 01 Oktober 2012
melihat pagi
pagi ini...
kulihat orang berbaju kumal tergeletak di pinggir parit jalanan berbual dengan rerumputan...
sementara lalu lintas tak getas mengantar beraktifitas
pun...kulihat orang tergeletak lagi...
di emperan toko...
berbaju kumal, tak peduli pada langkah langkah kaki yang melintas pergi...
kehidupan dengan segala urusannya
melupakan mereka mereka yang hanya tergeletak di kolong langit saja
tak punya tempat berteduh...
tampaknya mereka juga tak peduli untuk mengeluh...
diri melihat lihat hati..melihat lihat diri
syukur kupanjatkan padaNya Ilahi
semalam aku mempunyai selimut hangat untuk tidur
dan rumah tuk berteduh..
bajukupun cukup bersih meski tak lagi baru
pagi ini...
syukurku dan doaku...
semoga smuanya dalma lindunganNya
dalam setiap aktifitasnya
(cakung, 2-10-2012)
kulihat orang berbaju kumal tergeletak di pinggir parit jalanan berbual dengan rerumputan...
sementara lalu lintas tak getas mengantar beraktifitas
pun...kulihat orang tergeletak lagi...
di emperan toko...
berbaju kumal, tak peduli pada langkah langkah kaki yang melintas pergi...
kehidupan dengan segala urusannya
melupakan mereka mereka yang hanya tergeletak di kolong langit saja
tak punya tempat berteduh...
tampaknya mereka juga tak peduli untuk mengeluh...
diri melihat lihat hati..melihat lihat diri
syukur kupanjatkan padaNya Ilahi
semalam aku mempunyai selimut hangat untuk tidur
dan rumah tuk berteduh..
bajukupun cukup bersih meski tak lagi baru
pagi ini...
syukurku dan doaku...
semoga smuanya dalma lindunganNya
dalam setiap aktifitasnya
(cakung, 2-10-2012)
Selasa, 31 Juli 2012
TENTANG KAKEKKU
Saya memiliki 3 kakek. Ayah dari bapakku, ayah dari ibuku dan suami dari nenekku. Nah...dari mereka itu, hanya ayah dari bapakku yang aku belum pernah bertemu, hanya fotonya saja yang dapat saya lihat, setia terpampang di dinding kamar bapakku.
Ayah dari bapakku ini dulu adalah petani merangkap pedagang tembakau, bila musim tembakau tiba. Orang bilang, beliau itu "juragan tembakau". Rumah kami yang terbuat dari kayu sering dipergunakan untuk menyimpan tumpukan tembakau yang termuat dalam keranjang-keranjang, sebelum disetorkan ke boss nya kakeknya yang tinggal di Purwokerto, demikian konon cerita dari bapak.
Kakekku meninggal sebelum aku lahir waktu itu, bahkan sebelum bapakku mengenal ibuku. Tapi dari foto tuanya, aku bisa membayangkan bahwa kakek dulu adalah seorang pria tampan yang berperawakan tinggi di masa mudanya.
Berdasarkan cerita dari bapak, Mbah Sastro -nama kakekku itu- adalah pedagang tembakau pekerja keras dan jujur. Jarak dari Kendal ke Purwokerto tergolong lumayan jauh, ditempuh dengan kereta yang ditarik sapi, untuk membawa tembakaunya. Entah berapa lama perjalanan yang ditempuh saat itu dengan jarak yang saat inipun harus ditempauh 5 jam dengan kendaraan bermotor.
Bapak pernah cerita juga mengenai 'jaman rampokan" yang dilewati kakek dengan selamat. Pada masa itu, perampok sangat banyak berkeliaran dimana-mana sehingga orang yang memiliki harta barang sedikitpun, tak luput dari perampok itu. Namun kakekku dapat mempertahankan amanah tembakau yang tersimpan di dalam rumah, sehingga ketika jaman telah tenang kembali, kakek mengirimkan tembakau tersebut utuh kepada boss nya. Tentu saja boss dari kakek sangat terkejut karena tidak menyangka bahwa tembakaunya tetap utuh terjaga. Bisa saja kakekku menjual tembakau itu dan melaporkan telah dirampok orang. Namun kakekku tidak mau melakukan tindakan tidak terpuji tersebut.
Kakekku juga sangat sederhana orangnya. Beliau pernah ditawari oleh bossnya untuk mengubin lantai rumahku, dengan dibiayai oleh bossnya. Namun dengan rendah hati kakekku menolaknya, karena dia merasa sebagai petani, dia tidak layak punya rumah yang berlantai ubin seperti para juragan petinggi itu. Lantai dari bata merah yang ditata dianggap sudah cukup bagi kakekku.
Menurut Bapak, kakekku bukan termasuk petani yang kaya pada mulanya, namun dengan kerja kerasnya, kakek berhasil memindahkan rumahnya ke pinggir jalan raya. Tentu saja, di rumah besar itu, banyak saudara dan keponakan yang membantu dan tinggal di rumah. Jadi rumahku jaman itu selalu ramai banyak orang. Ditambah lagi dengan anak kakekkku yang berjumlah 11 orang. Meski kemudian hanya 5 yang masih hidup sampai dewasa dan menikah.
Aku berusaha membayangkan suasana rumahku saat itu, yang pastinya hangat dan ramai dengan canda tawa, meski dengan kesederhanaanya. Tentu saja, pemikiran orang jaman dulu masih sangat sederhana dan tidak banyak menuntut. Apabila telah cukup makan sehari-hari, cukuplah sudah.
Jaman telah berganti dan suasanapun demikian. Sebagai generasi penerus dan keturunannya, yang dapat saya lakukan adalah selalu mendoakan beliau, semoga Beliau tenang di sisiNya. amien.
Ayah dari bapakku ini dulu adalah petani merangkap pedagang tembakau, bila musim tembakau tiba. Orang bilang, beliau itu "juragan tembakau". Rumah kami yang terbuat dari kayu sering dipergunakan untuk menyimpan tumpukan tembakau yang termuat dalam keranjang-keranjang, sebelum disetorkan ke boss nya kakeknya yang tinggal di Purwokerto, demikian konon cerita dari bapak.
Kakekku meninggal sebelum aku lahir waktu itu, bahkan sebelum bapakku mengenal ibuku. Tapi dari foto tuanya, aku bisa membayangkan bahwa kakek dulu adalah seorang pria tampan yang berperawakan tinggi di masa mudanya.
Berdasarkan cerita dari bapak, Mbah Sastro -nama kakekku itu- adalah pedagang tembakau pekerja keras dan jujur. Jarak dari Kendal ke Purwokerto tergolong lumayan jauh, ditempuh dengan kereta yang ditarik sapi, untuk membawa tembakaunya. Entah berapa lama perjalanan yang ditempuh saat itu dengan jarak yang saat inipun harus ditempauh 5 jam dengan kendaraan bermotor.
Bapak pernah cerita juga mengenai 'jaman rampokan" yang dilewati kakek dengan selamat. Pada masa itu, perampok sangat banyak berkeliaran dimana-mana sehingga orang yang memiliki harta barang sedikitpun, tak luput dari perampok itu. Namun kakekku dapat mempertahankan amanah tembakau yang tersimpan di dalam rumah, sehingga ketika jaman telah tenang kembali, kakek mengirimkan tembakau tersebut utuh kepada boss nya. Tentu saja boss dari kakek sangat terkejut karena tidak menyangka bahwa tembakaunya tetap utuh terjaga. Bisa saja kakekku menjual tembakau itu dan melaporkan telah dirampok orang. Namun kakekku tidak mau melakukan tindakan tidak terpuji tersebut.
Kakekku juga sangat sederhana orangnya. Beliau pernah ditawari oleh bossnya untuk mengubin lantai rumahku, dengan dibiayai oleh bossnya. Namun dengan rendah hati kakekku menolaknya, karena dia merasa sebagai petani, dia tidak layak punya rumah yang berlantai ubin seperti para juragan petinggi itu. Lantai dari bata merah yang ditata dianggap sudah cukup bagi kakekku.
Menurut Bapak, kakekku bukan termasuk petani yang kaya pada mulanya, namun dengan kerja kerasnya, kakek berhasil memindahkan rumahnya ke pinggir jalan raya. Tentu saja, di rumah besar itu, banyak saudara dan keponakan yang membantu dan tinggal di rumah. Jadi rumahku jaman itu selalu ramai banyak orang. Ditambah lagi dengan anak kakekkku yang berjumlah 11 orang. Meski kemudian hanya 5 yang masih hidup sampai dewasa dan menikah.
Aku berusaha membayangkan suasana rumahku saat itu, yang pastinya hangat dan ramai dengan canda tawa, meski dengan kesederhanaanya. Tentu saja, pemikiran orang jaman dulu masih sangat sederhana dan tidak banyak menuntut. Apabila telah cukup makan sehari-hari, cukuplah sudah.
Jaman telah berganti dan suasanapun demikian. Sebagai generasi penerus dan keturunannya, yang dapat saya lakukan adalah selalu mendoakan beliau, semoga Beliau tenang di sisiNya. amien.
Kamis, 26 Juli 2012
Renungan Indah-WS Rendra
Ketika semua orang memuji milikku, bahwa sesungguhnya ini hanyalah titipan
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi mengapa aku tidak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus aku lakukan untuk milikNya itu???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipanMu itu diminta kembali olehNya
Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujianN
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut iru sebagai panggilan apa saja
Untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta. Ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas,
Dan
Kutolak sakit, kutolak kemiskinan.
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keasilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika.
Aku rajin beribadah, maka
Selayaknyalah derita menjauh dariku,
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakykan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku"
Dan menolaj keputusanNya yang tidak sesuai keinginanku
Allah..., padahal setiap hari kuucap
Hidup dan matiku hanya untuk beribadah
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Bahwa mobilku hanyalah titipanNya
Bahwa rumahku hanyalah titipanNya
Bahwa hartaku hanyalah titipanNya
Bahwa putraku hanyalah titipanNya
Tetapi mengapa aku tidak pernah bertanya:
Mengapa Dia menitipkan padaku???
Untuk apa Dia menitipkan ini padaku???
Dan kalau bukan milikku, apa yang harus aku lakukan untuk milikNya itu???
Adakah aku memiliki hak atas sesuatu yang bukan milikku?
Mengapa hatiku justru terasa berat, ketika titipanMu itu diminta kembali olehNya
Ketika diminta kembali,
Kusebut itu sebagai musibah,
Kusebut itu sebagai ujianN
Kusebut itu sebagai petaka,
Kusebut iru sebagai panggilan apa saja
Untuk melukiskan kalau itu adalah derita.
Ketika aku berdoa, kuminta titipan yang cocok dengan hawa nafsuku
Aku ingin lebih banyak harta. Ingin lebih banyak mobil, lebih banyak popularitas,
Dan
Kutolak sakit, kutolak kemiskinan.
Seolah semua "derita" adalah hukuman bagiku
Seolah keasilan dan kasihNya harus berjalan seperti matematika.
Aku rajin beribadah, maka
Selayaknyalah derita menjauh dariku,
Dan nikmat dunia kerap menghampiriku
Kuperlakykan Dia seolah mitra dagang, dan bukan kekasih
Kuminta Dia membalas "perlakuan baikku"
Dan menolaj keputusanNya yang tidak sesuai keinginanku
Allah..., padahal setiap hari kuucap
Hidup dan matiku hanya untuk beribadah
"Ketika langit dan bumi bersatu, bencana dan keberuntungan sama saja"
Syiir Tanpa Waton-Gus Dur
أَسْتَغْفِرُ اللهْ رَبَّ الْبَرَايَا * أَسْتَغْفِرُ اللهْ مِنَ الْخَطَايَا
رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعَا * وَوَفِّقْنِي عَمَلاً صَالِحَا
ياَ رَسُولَ اللهْ سَلاَمٌ عَلَيْكْ * يَا رَفِيْعَ الشَّانِ وَ الدَّرَجِ
عَطْفَةً يَّاجِيْرَةَ الْعَالَمِ * ( يَا أُهَيْلَ الْجُودِ وَالْكَرَمِ
Ngawiti ingsun nglaras syi’iran …. (aku memulai menembangkan syi’ir)
Kelawan muji maring Pengeran …. (dengan memuji kepada Tuhan)
Kang paring rohmat lan kenikmatan …. (yang memberi rohmat dan kenikmatan)
Rino wengine tanpo pitungan 2X …. (siang dan malamnya tanpa terhitung)
Duh bolo konco priyo wanito …. (wahai para teman pria dan wanita)
Ojo mung ngaji syareat bloko …. (jangan hanya belajar syari’at saja)
Gur pinter ndongeng nulis lan moco … (hanya pandai bicara, menulis dan membaca)
Tembe mburine bakal sengsoro 2X …. (esok hari bakal sengsara)
Akeh kang apal Qur’an Haditse …. (banyak yang hapal Qur’an dan Haditsnya)
Seneng ngafirke marang liyane …. (senang mengkafirkan kepada orang lain)
Kafire dewe dak digatekke …. (kafirnya sendiri tak dihiraukan)
Yen isih kotor ati akale 2X …. (jika masih kotor hati dan akalnya)
Gampang kabujuk nafsu angkoro …. (gampang terbujuk nafsu angkara)
Ing pepaese gebyare ndunyo …. (dalam hiasan gemerlapnya dunia)
Iri lan meri sugihe tonggo … (iri dan dengki kekayaan tetangga)
Mulo atine peteng lan nisto 2X … (maka hatinya gelap dan nista)
Ayo sedulur jo nglaleake …. (ayo saudara jangan melupakan)
Wajibe ngaji sak pranatane … (wajibnya mengkaji lengkap dengan aturannya)
Nggo ngandelake iman tauhide … (untuk mempertebal iman tauhidnya)
Baguse sangu mulyo matine 2X …. (bagusnya bekal mulia matinya)
Kang aran sholeh bagus atine …. (Yang disebut sholeh adalah bagus hatinya)
Kerono mapan seri ngelmune … (karena mapan lengkap ilmunya)
Laku thoriqot lan ma’rifate …. (menjalankan tarekat dan ma’rifatnya)
Ugo haqiqot manjing rasane 2 X … (juga hakikat meresap rasanya)
Al Qur’an qodim wahyu minulyo … (Al Qur’an qodim wahyu mulia)
Tanpo tinulis biso diwoco … (tanpa ditulis bisa dibaca)
Iku wejangan guru waskito … (itulah petuah guru mumpuni)
Den tancepake ing jero dodo 2X … (ditancapkan di dalam dada)
Kumantil ati lan pikiran … (menempel di hati dan pikiran)
Mrasuk ing badan kabeh jeroan …. (merasuk dalam badan dan seluruh hati)
Mu’jizat Rosul dadi pedoman …. (mukjizat Rosul(Al-Qur’an) jadi pedoman)
Minongko dalan manjinge iman 2 X … (sebagai sarana jalan masuknya iman)
Kelawan Alloh Kang Moho Suci … (Kepada Alloh Yang Maha Suci)
Kudu rangkulan rino lan wengi ….. (harus mendekatkan diri siang dan malam)
Ditirakati diriyadohi … (diusahakan dengan sungguh-sungguh secara ihlas)
Dzikir lan suluk jo nganti lali 2X … (dzikir dan suluk jangan sampai lupa)
Uripe ayem rumongso aman … (hidupnya tentram merasa aman)
Dununge roso tondo yen iman … (mantabnya rasa tandanya beriman)
Sabar narimo najan pas-pasan … (sabar menerima meski hidupnya pas-pasan)
Kabeh tinakdir saking Pengeran 2X … (semua itu adalah takdir dari Tuhan)
Kelawan konco dulur lan tonggo … (terhadap teman, saudara dan tetangga)
Kang podho rukun ojo dursilo … (yang rukunlah jangan bertengkar)
Iku sunahe Rosul kang mulyo … (itu sunnahnya Rosul yang mulia)
Nabi Muhammad panutan kito 2x …. (Nabi Muhammad tauladan kita)
Ayo nglakoni sakabehane … (ayo jalani semuanya)
Alloh kang bakal ngangkat drajate … (Allah yang akan mengangkat derajatnya)
Senajan asor toto dhohire … (Walaupun rendah tampilan dhohirnya)
Ananging mulyo maqom drajate 2X … (namun mulia maqam derajatnya di sisi Allah)
Lamun palastro ing pungkasane … (ketika ajal telah datang di akhir hayatnya)
Ora kesasar roh lan sukmane … (tidak tersesat roh dan sukmanya)
Den gadang Alloh swargo manggone … (dirindukan Allah surga tempatnya)
Utuh mayite ugo ulese 2X … (utuh jasadnya juga kain kafannya)
a
Langganan:
Postingan (Atom)