Selasa, 05 Maret 2013

MENENGOK ANGKUTAN LINTAS BATAS NEGARA INDONESIA-MALAYSIA-BRUNEI DARUSSALAM



Bus Damri rute Pontianak-Serawak-Brunei

Disela-sela menghadiri pertemuan di Bandar Seri begawan pada tahun 2009, saya dan rombongan menyempatkan diri untuk menengok angkutan lintas batas negara Indonesia-Malaysia dan Brunei Darussalam. Tentu saja, kegiatan tersebut difasilitasi oleh KBRI Brunei Darussalam.

angkutan antar negara
aktifitas menjelang keberangkatan bus di Bandar Seri Begawan
Angkutan lintas batas negara yang menempuh rute Pontianak (Kalimantan Barat, Indonesia)- Kuching (Serawak-Malaysia)-Bandar Seri Begawan (Brunei Draussalam) tersebut merupakan implementasi dari Kesepakatan Kerjasama Brunei Darusalam-Indonesia-Malaysia and the Philipines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di bidang angkutan lintas batas bis Komersial (BIMP-EAGA Memorandum of Understanding (MOU) on Cross-Border Movement of Commercial Buses and Coached) yang ditandatangani oleh para Menteri transportasi Negara BIMP-EAGA di Singapura pada tanggal 2 Nopember 2007.

Pengoperasian angkutan lintas batas negara dimana dari pihak Indonesia antara lian dioperasikan oleh PERUM DAMRI yang dimulai sejak bulan Nopember 2008 tersebut melintas jarak sekitar 1.200 km dengan waktu tempuh sekitar 26 jam. Setiap hari, sekitar pukul 8-10 malam, satu bus DAMRI berangkat dari Pontianak menuju Bnadar Seri Begawan, sedangkan keberangkatan dari Bandar Seri Begawan adalah  jam 4 sore.  Ongkos yang harus dikeluarkan oleh masing-masing penumpang adalah Rp. 550.000 (lima ratus lima puluh ribu rupiah) atau 80 ringgit Brunei.

Fasilitas bus terbilang cukup nyaman karena dilengkapi dengan Air Conditioner, kapasitas tempat duduk 28 seat, toilet dan ruang merokok. Berdasarkan info dari sopir bus DAMRI, dalam perjalanan, bus akan berhenti 3 kali dan penumpang diberi fasilitas makan 1 kali. Guna menjamin keamanan dalam perjalanan serta mendukung kelancaran perjalanan bus, KBRI Brunei meminta agar dalam bus dipasang pengumuman mengenai jenis-jenis barang yang dilarang masuk ke Brunei Darussalam.

Antusiasme masyarakat baik masyarakat Indonesia maupun Brunei Darussalam terhadap beroperasinya angkutan yang melintas pulau Kalimantan ini sangat besar. Hal ini terlihat dari load factor bus yang rata-rata lebih dari 50% setiap harinya. Selain para TKI yang bekerja di Brunei, angkutan tersebut juga sangat diminati oleh masyarakat Brunei Draussalam maupun Pontianak yang hendak melancong dan meniknmati keindahan pulau Klaimantan dari dekat.

Keberadaan angkutan lintas batas tersebut selain memperlancar pergerakan penumpang antara negara, juga merupakan sarana untuk lebih mendekatkan masyarakat serumpun tiga negara yang berbatasan darat yaitu Indonesia-Malaysia dan Brunei Draussalam baik dari segi sosial, ekonomu maupun kebudayaan, sebagaimana yang dicita-citakan melalui kerjasama wilayah pertumbuhan ekonomi Brunei Darussalam-Indonesia-Malaysia-Philipina.

(note: tulisan ini dibuat tahun 2009)
Berfoto dengan sopir dan kondektur bus damri

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar